| Mengejar matahari |
Tuutttt.... tuuutttt.... tutttttt..... tuuuuutttttt.....
“Assalamu alaikum”.Bunyi suara diujung telpon.
“Wa alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh” jawab si penelepon.
“Ini Dodik mak,gimana kabarnya emak?” tanya si penelepon itu kepada orang diujung telepon
yang ternyata adalah emaknya.
“ Alhamdulillah nak mak sehat.Kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanya si Emak kepada
anaknya.
“Saya sehat juga mak,Bapak gimana kabarnya??” balas si anak menanyakan kabar Bapaknya.
“Bapakmu juga sehat,hati-hati ya nak kerja di negara orang.Jangan lupa sholat 5 waktunya dan
jaga kesehatan.” Jawab sang emak sambil menasehati anaknya.
“Iya mak,doanya aja semoga anakmu disini senantiasa diberikan kesehatan dan
keselamatan,begitupun dengan emak dan bapak serta keluarga di kampung.” Jawab sang anak
menimpali.
Setelah bertanya kabar dan melepas rindu lewat telepon,pemuda kecil itupun menutup
teleponnya.
Hari ini genap sebulan pemuda kecil itu meninggalkan kampung halaman.Meninggalkan
keluarga yang sangat dicintainya.Meninggalkan teman-temannya.Berat memang,untuk anak
seusia 18 tahun harus berpisah dengan orang-orang tersayangnya,terpisahkan ribuan kilometer
jauhnya.Hanya tekadnya yang bulat untuk merubah nasib keluarganyalah yang membuat dia
terus bertahan.
Pemuda kecil itu merebahkan badannya ke sebuah dipan kecil yang terbuat dari triplek.
Mungkin kecapekan karena seharian bekerja melayani tukang-tukang bangunan.Mengangkat
semen-semen yang beratnya melebihi berat badannya. Mengangkat keramik yang tak kalah
beratnya. Belum lagi teriakan dan makian yang seringkali dia terima dari sang mandor bangunan
bila dia lambat atau salah dalam bekerja.
”Ahhhhhhhhhhhhhh,..” pemuda itu menghela nafas panjang.Seolah ingin membuang semua
rasa capek ditubuhnya.Tangan kanannya diletakkan diatas kening.Bola matanya menerawang
jauh ke langit-langit kamar.Tanda bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.Suara gemericik air
hujan diluar rumah menambah kesunyian malam.Semilir angin membawa pemuda itu ke dalam
lamunan.
”Kamu mau nglanjutin kuliah dimana Dik??” tanya perempuan separuh baya kepada pemuda
kecil itu.
”Saya nggak nglanjutin kuliah buk,mau merantau saja” jawab pemuda kecil itu polos.
”Kenapa kamu gak kuliah Dik??? Kamu kan pinter di sekolah” perempuan paruh baya itu
bertanya lagi.
”Enggak bu,,, mau ikut kakak ke Malaysia saja.Mencari modal untuk masa depan,mau bantu
keluarga” jawab pemuda itu lugu.
”Kalau kamu gak nglanjutin kuliah gimana kamu bisa sukses?. Rugi dong punya otak encer
kalau hanya jadi TKI” perempuan paruh baya yang bernama bu Herawati itu menjawab ketus.
”Mau gimana lagi bu,orangtua saya gak punya biaya buat nyekolahin saya sampai Perguruan
Tinggi.Inipun biaya berangkat ke Malaysia saya pinjam uang ke kakak saya” Pemuda itu
menjawab masih dengan keluguannya.
”Ya sudah kalau itu pilihanmu,yang jelas kalau ibu pribadi nggak pengen punya menantu yang
cuma lulusan SMK” bu Herawati menimpali dengan suara ketusnya.
Tok..tok..tok...!!!
”Dik,buka pintunya.” Suara seorang lelaki dari luar kamar itu membuyarkan lamunan sang
pemuda.
”Iya mas,bentar.” Dengan terburu-buru pemuda itu bergegas membukakan pintu.
”Ada apa mas???” tanya pemuda itu kepada seorang lelaki berusia 30 an yang berdiri didepan
pintu.
”Ini gajimu satu bulan,sudah dipotong makan dan permit” lelaki itu mengulurkan lembaran uang
Ringgit beserta kartu kerja kepada pemuda itu.
”Terima kasih mas” pemuda itu berkata singkat.
Setelah lelaki yang tak lain kakak iparnya itu pergi,pemuda kecil itu bergegas menutup kembali
pintu kamarnya.Dia hitung uang yang ada dalam genggamannya.
”430 Ringgit” pemuda itu berkata sendiri. Itu gaji pertama dia bekerja di Malaysia.
‘’Lumayan untuk nyicil biaya berangkat disini” gumamnya.
Disandarkannya kepalanya ke dinding kamar. Tatapan matanya kosong. Kata-kata bu
Herawati saat dia akan berangkat ke Malaysia masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.Dan
selalu hadir dalam lamunannya.Bu Herawati adalah ibu kepada seorang gadis cantik nan anggun
bernama Heny.Dimana pada gadis itulah hati pemuda kecil itu tertambat.
Sudah sejak lama pemuda itu menaruh hati pada Heny.Tapi derajat keluarganya yang
berbeda membuat pemuda kecil itu berpikir seribu kali.Ayah Heny seorang perwira menengah
Polisi,sedangkan ayah pemuda itu hanyalah seorang buruh tani.Dan hanya mengandalkan upah
dari membantu pekerjaan bertani orang lain.Hal itulah yang menebalkan tekad sang pemuda
kecil itu untuk berangkat merantau demi merubah nasib keluarganya.
Menjadi seorang TKI sebenarnya bukanlah sebuah impian dari pemuda polos itu.Sejak kecil
dia selalu bercita-cita menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil seperti halnya pamannya.Tetapi
apalah daya,manusia hanya bisa berencana.Tuhan pula yang tentukan hasilnya.Di jaman yang
serba modern ini manalah laku ijazah SMK untuk melamar kerja menjadi seorang Pegawai
Negeri Sipil.Sementara diluar sana,masih banyak ribuan sarjana yang menganggur.Meski dengan
berat hati pemuda kecil itu meninggalkan orang-orang yang disayanginya untuk merantau
beribu-ribu kilometer jauhnya.
”Aku berjanji akan membuktikan kepada orangtuamu kalau aku bisa sukses dan bisa meraih
masa depanku dengan caraku sendiri”. Gumam pemuda itu saat memandangi foto gadis
dambaannya yang dia simpan di dalam dompet lusuhnya.
”Aku nggak akan pulang dan menemui kamu sebelum aku bisa membuktikan janjiku ini”
gumamnya melanjutkan.Hampir tiap saat foto itu dipandanginya.Sebuah foto yang menguatkan
tekadnya untuk bisa sukses mencapa impiannya.
Hari berganti dan waktu terus berlalu.Pemuda kecil itu terus berjuang mewujudkan cita-
citanya.Membanting tulang tak peduli panas maupun hujan.Badannya yang kurus kering seolah
kalah dengan semangatnya yang besar dan membara.Semua pekerjaan dilaluinya dengan penuh
semangat dan dedikasi tinggi.Hal itulah yang menimbulkan rasa kagum dari bossnya.Sehingga
tidak mengherankan jika dalam waktu singkat pemuda kecil itu sudah mampu menjadi seorang
kepala sub contractor yang sangat dibanggakan oleh bossnya.
Pagi itu si pemuda kecil sudah bangun sejak sebelum adzan subuh berkumandang.Lalu dia
bergegas memanasi mobil Pajero Sport kesayangannya.Pagi itu rencananya dia mau ke Kedutaan
Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur mengantarkan 2 orang pekerjanya untuk memperbarui
Paspor.Pagi-pagi benar mereka sudah berangkat demi menghindari kemacetan yang luar biasa di
jalanan Kuala Lumpur. Satu jam lamanya perjalanan dibutuhkan untuk sampai di tempat yang
dituju.Sesampainya disana mereka membaur dengan ratusan TKI lainnya untuk antri memasuki
pintu gerbang KBRI.Berdesak-desakan satu sama lain demi agar mereka bisa mendapatkan
nomer urut awal.
Ditengah hiruk pikuk suasana di KBRI,pemuda kecil itu terpandang sebuah majalah kecil
yang terletak didepan meja konter petugas.Bergegas pemuda itu mengambil satu eksemplar
majalah keluaran KBRI itu.Satu demi satu halaman majalah itu dibukanya. Hingga pada suatu
halaman dia menemukan sebuah berita yang menyita perhatiannya.
”Universitas Terbuka Pokjar Kuala Lumpur diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk
Malaysia” baca pemuda itu pelan.Sontak pemuda itu merasa penasaran. Tulisan demi tulisan
dibacanya.
”Yessss!!!!! Yesssss!!! Yessssss!!!!” tiba-tiba pemuda itu berteriak kegirangan sambil
mengepalkan kedua tangannya.Dilemparkannya majalah yang dibacanya itu keatas sambil
meloncat kegirangan.Raut bahagia jelas terpancar dari wajahnya.
”Alhamdulillahi Robbil Alamiin”
”Alhamdulillahi Robbil Alamiin”
”Alhamdulillahi Robbil Alamiin” pemuda itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
Tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya yang terus memperhatikan tingkahnya,
pemuda itu seperti menemukan bongkahan emas yang tak terhingga jumlahnya.
”Ada apa to mas Dodik,kok tertawa sendiri” suara Kipli mencoba mencari tahu pada pemuda itu.
”Ini lho pli,ada berita baik buat kita-kita para TKI” jawab pemuda itu.
”Kita ???? kamu aja keleeeesss...” sanggah Kipli dengan gaya bicara khasnya yang seperti anak
paling gaul sedunia.
”Dasar wong gemblung kamu Pli.Ini ni penting lho buat TKI-TKI seperti kita ini.Lihat ni,
sekarang di Kuala Lumpur ini sudah dibuka Universitas Terbuka Kelompok Belajar kuala
Lumpur Pli”
”Jadi kita bisa kuliah tanpa harus meninggalkan pekerjaan kita,dan nanti pulang kita bisa jadi
Sarjana” pemuda itu coba menjelaskan perihal berita yang baru dibacanya itu pada temannya.
”Walah,,, saya terima aja nasib jadi TKI mas.Paling-paling juga nanti pulang kampung ya
pegang cangkul” Kipli menjawab masih dengan gaya cueknya.
”Wes,terserah kamu aja Pli.Yang penting bagiku ini sebuah kesempatan untuk bisa mengenyam
pendidikan tinggi.Biar TKI tidak dipandang sebelah mata lagi. Soal nanti mau jadi apa itu yang
penting kita sudah berusaha.Ya siapa tau niatku jadi PNS seperti pamanku bisa tercapai.” Jawab
pemuda itu mencoba bersikap bijaksana.
Pembicaraan berhenti ketika nomer urut Kipli dipanggil untuk menyerahkan administrasi.
Sekembalinya dari KBRI sang pemuda kecil itu terus mencari-cari info untuk mendaftar di
Universitas Terbuka itu.Akhirnya,setelah semua persyaratan lengkap resmilah pemuda itu
bergelar Mahasiswa.Sesuatu yang selama ini diimpikannya sudah berhasil dia capai.
Keinginannya untuk bisa melanjutkan kuliah akhirnya bisa terlaksana tanpa harus meninggalkan
pekerjaannya.
”Heny,Alhamdulillah aku sekarang bisa kuliah.Doakan aku ya semoga aku bisa pulang dengan
membawa modal untuk masa depan dan gelar Sarjana”gumam pemuda itu ketika memandangi
foto kecil didalam dompetnya yang sudah mulai usang.Tak henti-hentinya dipandanginya foto
gadis anggun berlesung pipi itu.Gadis yang selama ini dia damba dan idam-
idamkan.Kesederhanaan ditengah kemewahan yang membuat gadis itu mempunyai nilai tambah
dimata pemuda itu.
Hari-hari pemuda itu kini berubah menjadi hari yang menyenangkan sekaligus
menyibukkan.Siang harinya dia akan bekerja mengawasi anak buahnya memasang satu demi
satu ubin keramik di sebuah proyek apartemen mewah di pinggiran kota Kuala Lumpur.Malam
harinya dia akan sibuk didepan laptop bututnya untuk belajar secara mandiri dan membaca satu
demi satu materi yang diberikan oleh tutornya sambil sesekali mengerjakan tugas.Dan bila hari
minggu tiba dia akan pergi ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur yang terletak disebelah stasiun
Komuter Putra.Disanalah dia belajar Tutorial Tatap Muka bersama ratusan mahasiswa lainnya
yang berasal dari kalangan pekerja.
Disanalah dia menemukan sebuah keluarga baru yang membuatnya semakin semangat untuk
belajar.Kesamaan nasib menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia di negeri orang membuat
mereka seperti dipersatukan dalam sebuah ikatan yang kuat.Kesamaan tekad untuk merubah citra
Tenaga Kerja Indonesia yang sudah terlanjur di cap buruk menguatkan mereka untuk bisa
membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan miring itu tak selamanya benar.Berbagai kegiatan positif
mereka buat demi memartabatkan citra TKI di mata masyarakat sekitar.
Syahdan,lima tahun sudah berlalu sejak pemuda itu meninggalkan kampung halamannya. Dia
sudah berhasil mewujudkan impiannya untuk membantu keluarganya.Begitupun gelar Sarjana
Ilmu Pemerintahan sudah digenggamnya.Tibalah saatnya pemuda itu untuk kembali ke kampung
halamannya.Bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya.
Pagi itu,langit Kuala Lumpur mendung.Mentari seakan berduka dan tak mau menampakkan
dirinya.Pemuda kecil itu tergopoh-gopoh menuju taksi yang sudah menunggunya.Hari itu hari
terakhir dia di negeri Malaysia.Negeri yang selama lima tahun ini memberikan dia banyak
pelajaran dan kenangan. Negeri tempat dia mewujudkan impian dan harapannya.Sejenak
dipandanginya rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.Dipandanginya teman-teman
seperjuangannya sesama TKI. Terlihat raut sedih diwajah mereka. Kebersamaan selama lima
tahun di negeri orang akan berakhir hari ini.
”Kalian sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.Teruskan perjuangan kalian,kita sambung
silaturahmi kita dalam doa kita.” Pemuda itu mencoba memberikan sepatah dua patah kata.
Bulir airmata keluar dari kelopak matanya,meski ia mencoba untuk menahannya.
”Jaga diri kalian baik-baik disini.Ingat tujuan awal kita kesini.Kepada kalianlah bangsa ini
berharap.Semoga kesuksesan menyertai kalian” pamuda itu menutup pembicaraannya sambil
menjabat tangan teman-teman seperjuangannya satu persatu dan memeluknya.Suasana berubah
menjadi haru ketika pemuda itu mulai melangkah kedalam taksi yang sudah lama menunggu.
Lambaian tangan teman seperjuangannya mengantarkan pemuda itu meninggalkan negeri
Petronas itu.
Bila langit Kuala Lumpur mendung sejak pagi,beda halnya dengan langit Kota Surabaya.
Cuaca cerah kota pahlawan seolah ingin menunjukkan kepada pemuda itu,bahwasanya dia
sedang tersenyum gembira menyambut kedatangan pahlawan devisa negara itu. Sebuah pesawat
Garuda Indonesia mulus mendarat di Bandara Internasional Juanda.Diantara seratusan lebih
penumpang itu keluarlah pemuda kecil menenteng sebuah koper.Begitu menginjakkan kaki di
negeri tercinta pemuda itu langsung bersujud.
”Alhamdulillahi Robbil Alamiin..” pemuda itu bersujud dengan mengucap syukur kepada
Allah.
Lima tahun perjalanannya di negeri orang telah dilaluinya denga selamat dan bisa dibilang
sukses.Setengah berlari kecil pemuda itu menuju ruang pemeriksaan imigrasi dan custom. Rasa
nya sudah tak sabar ingin segera bertemu dengn keluarga yang dicintainya.
Di pintu kedatangan berdiri seorang lelaki yang rambutnya sudah memutih. Pak Uban begitu
orang-orang didesanya biasa memanggil.Disampingnya seorang wanita berusia 45 tahunan
sedang sibuk memperhatikan orang yang berlalu lalang didepannya.Wanita itu adalah Bu Siti
yang merupakan istri dari Pak Uban.Dari wajah mereka jelas terlihat sedang menunggu
seseorang.Kedua bola mata mereka selalu melihat ke arah pintu dimana para penumpang
pesawat biasanya keluar. Merekalah kedua orangtua pemuda kecil itu.
”Emaaaakkk !!!!! Bapaaaakkk!!!!! ” pemuda kecil menjerit haru ketika dua orang yang sangat
disayanginya sekarang berada didepannya.
Sontak dilepaskannya koper yang dipegangnya dan dengan tergopoh dia menghampiri dua orang
yang tak lain orang tuanya itu. Tangis haru mewarnai pertemuan mereka. Lima tahun lamanya
mereka berpisah.Tak terhitung lagi berapa besar rasa rindu yang mereka rasa.
Perjalanan menuju rumah mereka di Madiun memakan waktu sekitar 3 jam mengendarai
mobil.Didalam mobil mereka saling bercanda melepas kangen.Hingga perjalanan yang
melelahkan itu menjadi menyenangkan.Sudah banyak yang berubah dari negerinya. Sudah
banyak bangunan-bangunan pencakar langit berdiri dikiri kanan jalan yang mereka lalui.Sudah
banyak supermarket-supermarket besar yang berdiri.
Sampai juga pemuda itu dirumah yang selama lima tahun ini dia tinggalkan. Rumah
sederhana yang dulu berlantaikan tanah dan berdinding anyaman bambu itu sekarang sudah
berubah menjadi rumah nan asri berlantaikan keramik dan lengkap dengan garasi
disampingnya.Tersenyum bahagia pemuda itu melihat apa yang selama ini diperjuangkannya
menjadi kenyataan.
Ketika akan memasuki rumah,tanpa sengaja pemuda itu melihat sosok perempuan yang sudah
tidak asing lagi baginya sedang berjalan didepan rumahnya bersama seorang lelaki.Wanita yang
selama lima tahun ini fotonya selalu setia dipandanginya. Mengisi ruang didompetnya. Yaaaa...
perempuan itu adalah Heny. Gadis yang selama ini diimpikannya. Tapi siapa lelaki yang berjalan
dengannya itu??? Pemuda itu mengernyitkan dahi tanda penasaran.
”Masuklah dulu nak” suara bu Siti membuyarkan lamunan pemuda itu.
Pemuda itupun masuk dan merebahkan tubuhnya ke sofa biru di ruang tamu.
”Maafkan emak nak,gak pernah menceritakan soal pacarmu itu” si emak membuka
percakapannya dengan anaknya.
”Mereka baru saja menikah sebulan yang lalu.Suaminya itu adalah anak dari teman ayahnya si
Heny.Mereka dijodohkan oleh kedua orangtuanya meskipun si Heny gak mau.” Bu Siti coba
menjelaskan.
“Emak sengaja tidak memberitahumu agar kamu gak berpikiran macam-macam disana. Sabar
ya nak,mungkin memang bukan jodohmu.Mak yakin Gusti Allah akan memberikan kamu
penggantinya yang lebih baik.” Bu Siti mencoba menenangkan anaknya sambil merangkul dan
mengelus kepala anaknya itu.
“Nggak apa-apa kok mak,mungkin memang benar kata emak kalau dia bukan jodohku.”
Pemuda itu menjawab pelan.
”Setidaknya saya bersyukur bisa mengenal dan mengaguminya.Saya juga yang salah karena
nggak pernah memberi dia kabar selama ini”pemuda kecil itu menjawab kemudian pamitan ke
ibunya mau masuk ke kamar.
Sesampainya di kamar,pemuda itu membuka dompet kesayangannya. Dikeluarkannya foto
yang selama ini setia menemaninya.Foto gadis anggun berjilbab ungu yang sekarang sudah
menjadi milik orang lain.
”Selamat menempuh hidup baru Hen,semoga kamu bahagia selamanya bersama suamimu.”
Pemuda kecil itu berkata lirih sambil memandangi foto yang sudah basah dengan airmatanya.
”Terima kasih sudah menjadi penyemangat hidupku selama ini,karenamu aku bisa seperti
sekarang ini.Tanpamu mungkin aku masih seorang pemuda yang tak tau arah.Mungkin Allah
memang sengaja mengirimkanmu untuk menjadi malaikat penyemangatku dan bukan sebagai
istriku” lirih pemuda itu.
Pemuda itu beranjak dari tempat tidurnya.Kemudian dia bergegas pergi ke sungai yang tak
jauh dari rumahnya.Dipandanginya sejenak foto yang selama ini menemaninya sebelum akhirnya
pemuda itu menghanyutkan foto itu kedalam aliran sungai.Hanyut bersama rasa cintanya yang
tak pernah kesampaian. Meninggalkan kenangan yang takkan pernah terlupakan.
Syahdan,pemuda itu kemudian berhasil mencapai impiannya menjadi seorang Pegawai
Negeri Sipil dan bekerja sebagai Staf Camat di kantor kecamatan tempat dia tinggal.Disanalah
akhirnya dia bertemu dengan seorang gadis cantik berjilbab bernama Aulia Zahra.Akhir cerita
mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 3 orang anak dan hidup berbahagia.Begitulah kalau
Tuhan sudah berkehendak.Apapun tidak ada yang mustahil di dunia ini. Apa yang penting adalah
kita jangan pernah berhenti untuk berusaha sekuat tenaga.



19:41
Gus Pur
Posted in: