Thursday, 9 April 2015

MIMPI SANG PEMUDA KECIL

Mengejar matahari

Tuutttt.... tuuutttt.... tutttttt..... tuuuuutttttt.....

“Assalamu alaikum”.Bunyi suara diujung telpon.

“Wa alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh”  jawab si penelepon.

“Ini Dodik mak,gimana kabarnya emak?” tanya si penelepon itu kepada orang diujung telepon

yang ternyata adalah emaknya.

“ Alhamdulillah nak mak sehat.Kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanya si Emak kepada

anaknya.

“Saya sehat juga mak,Bapak gimana kabarnya??” balas si anak menanyakan kabar Bapaknya.

“Bapakmu juga sehat,hati-hati ya nak kerja di negara orang.Jangan lupa sholat 5 waktunya dan

jaga kesehatan.” Jawab sang emak sambil menasehati anaknya.

“Iya mak,doanya aja semoga anakmu disini senantiasa diberikan kesehatan dan

keselamatan,begitupun dengan emak dan bapak serta keluarga di kampung.” Jawab sang anak

menimpali.

Setelah bertanya kabar dan melepas rindu lewat telepon,pemuda kecil itupun menutup

teleponnya.

     Hari ini genap sebulan pemuda kecil itu meninggalkan kampung halaman.Meninggalkan

keluarga yang sangat dicintainya.Meninggalkan teman-temannya.Berat memang,untuk anak

seusia 18 tahun harus berpisah dengan orang-orang tersayangnya,terpisahkan ribuan kilometer

jauhnya.Hanya tekadnya yang bulat untuk merubah nasib keluarganyalah yang membuat dia

terus bertahan.

    Pemuda kecil itu merebahkan badannya ke sebuah dipan kecil yang terbuat dari triplek.

Mungkin kecapekan karena seharian bekerja melayani tukang-tukang bangunan.Mengangkat

semen-semen yang beratnya melebihi berat badannya. Mengangkat keramik yang tak kalah

beratnya. Belum lagi teriakan dan makian yang seringkali dia terima dari sang mandor bangunan

bila dia lambat atau salah dalam bekerja.

    ”Ahhhhhhhhhhhhhh,..” pemuda itu menghela nafas panjang.Seolah ingin membuang semua

rasa capek ditubuhnya.Tangan kanannya diletakkan diatas kening.Bola matanya menerawang

jauh ke langit-langit kamar.Tanda bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.Suara gemericik air

hujan diluar rumah menambah kesunyian malam.Semilir angin membawa pemuda itu ke dalam

lamunan.

”Kamu mau nglanjutin kuliah dimana Dik??” tanya perempuan separuh baya kepada pemuda

kecil itu.

”Saya nggak nglanjutin kuliah buk,mau merantau saja” jawab pemuda kecil itu polos.

”Kenapa kamu gak kuliah Dik??? Kamu kan pinter di sekolah” perempuan paruh baya itu

bertanya lagi.

”Enggak bu,,, mau ikut kakak ke Malaysia saja.Mencari modal untuk masa depan,mau bantu

keluarga” jawab pemuda itu lugu.

”Kalau kamu gak nglanjutin kuliah gimana kamu bisa sukses?. Rugi dong punya otak encer

kalau hanya jadi TKI” perempuan paruh baya yang bernama bu Herawati itu menjawab ketus.

”Mau gimana lagi bu,orangtua saya gak punya biaya buat nyekolahin saya sampai Perguruan

Tinggi.Inipun biaya berangkat ke Malaysia saya pinjam uang ke kakak saya” Pemuda itu

menjawab masih dengan keluguannya.

”Ya sudah kalau itu pilihanmu,yang jelas kalau ibu pribadi nggak pengen punya menantu yang

cuma lulusan SMK” bu Herawati menimpali dengan suara ketusnya.

      Tok..tok..tok...!!!

”Dik,buka pintunya.” Suara seorang lelaki dari luar kamar itu membuyarkan lamunan sang

pemuda.

”Iya mas,bentar.” Dengan terburu-buru pemuda itu bergegas membukakan pintu.

”Ada apa mas???” tanya pemuda itu kepada seorang lelaki berusia 30 an yang berdiri didepan

pintu.

”Ini gajimu satu bulan,sudah dipotong makan dan permit” lelaki itu mengulurkan lembaran uang

Ringgit beserta kartu kerja kepada pemuda itu.

”Terima kasih mas” pemuda itu berkata singkat.

Setelah lelaki yang tak lain kakak iparnya itu pergi,pemuda kecil itu bergegas menutup kembali

pintu kamarnya.Dia hitung uang yang ada dalam genggamannya.

”430 Ringgit” pemuda itu berkata sendiri. Itu gaji pertama dia bekerja di Malaysia.

‘’Lumayan untuk nyicil biaya berangkat disini” gumamnya.

      Disandarkannya kepalanya ke dinding kamar. Tatapan matanya kosong. Kata-kata bu

Herawati saat dia akan berangkat ke Malaysia masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.Dan

selalu hadir dalam lamunannya.Bu Herawati adalah ibu kepada seorang gadis cantik nan anggun

bernama Heny.Dimana pada gadis itulah hati pemuda kecil itu tertambat.

       Sudah sejak lama pemuda itu menaruh hati pada Heny.Tapi derajat keluarganya yang

berbeda membuat pemuda kecil itu berpikir seribu kali.Ayah Heny seorang perwira menengah

Polisi,sedangkan ayah pemuda itu hanyalah seorang buruh tani.Dan hanya mengandalkan upah

dari membantu pekerjaan bertani orang lain.Hal itulah yang menebalkan tekad sang pemuda

kecil itu untuk berangkat merantau demi merubah nasib keluarganya.

     Menjadi seorang TKI sebenarnya bukanlah sebuah impian dari pemuda polos itu.Sejak kecil

dia selalu bercita-cita menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil seperti halnya pamannya.Tetapi

apalah daya,manusia hanya bisa berencana.Tuhan pula yang tentukan hasilnya.Di jaman yang

serba modern ini manalah laku ijazah SMK untuk melamar kerja menjadi seorang Pegawai

Negeri Sipil.Sementara diluar sana,masih banyak ribuan sarjana yang menganggur.Meski dengan

berat hati pemuda kecil itu meninggalkan orang-orang yang disayanginya untuk merantau

beribu-ribu kilometer jauhnya.

   ”Aku berjanji akan membuktikan kepada orangtuamu kalau aku bisa sukses dan bisa meraih

masa depanku dengan caraku sendiri”. Gumam pemuda itu saat memandangi foto gadis

dambaannya yang dia simpan di dalam dompet lusuhnya.

  ”Aku nggak akan pulang dan menemui kamu sebelum aku bisa membuktikan janjiku ini”

gumamnya melanjutkan.Hampir tiap saat foto itu dipandanginya.Sebuah foto yang menguatkan

tekadnya untuk bisa sukses mencapa impiannya.

     Hari berganti dan waktu terus berlalu.Pemuda kecil itu terus berjuang mewujudkan cita-

citanya.Membanting tulang tak peduli panas maupun hujan.Badannya yang kurus kering seolah

kalah dengan semangatnya yang besar dan membara.Semua pekerjaan dilaluinya dengan penuh

semangat dan dedikasi tinggi.Hal itulah yang menimbulkan rasa kagum dari bossnya.Sehingga

tidak mengherankan jika dalam waktu singkat pemuda kecil itu sudah mampu menjadi seorang

kepala sub contractor yang sangat dibanggakan oleh bossnya.

      Pagi itu si pemuda kecil sudah bangun sejak sebelum adzan subuh berkumandang.Lalu dia

bergegas memanasi mobil Pajero Sport kesayangannya.Pagi itu rencananya dia mau ke Kedutaan

Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur mengantarkan 2 orang pekerjanya untuk memperbarui

Paspor.Pagi-pagi benar mereka sudah berangkat demi menghindari kemacetan yang luar biasa di

jalanan Kuala Lumpur. Satu jam lamanya perjalanan dibutuhkan untuk sampai di tempat yang

dituju.Sesampainya disana mereka membaur dengan ratusan TKI lainnya untuk antri memasuki

pintu gerbang KBRI.Berdesak-desakan satu sama lain demi agar mereka bisa mendapatkan

nomer urut awal.

     Ditengah hiruk pikuk suasana di KBRI,pemuda kecil itu terpandang sebuah majalah kecil

yang terletak didepan meja konter petugas.Bergegas pemuda itu mengambil satu eksemplar

majalah keluaran KBRI itu.Satu demi satu halaman majalah itu dibukanya. Hingga pada suatu

halaman dia menemukan sebuah berita yang menyita perhatiannya.

  ”Universitas Terbuka Pokjar Kuala Lumpur diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk

Malaysia” baca pemuda itu pelan.Sontak pemuda itu merasa penasaran. Tulisan demi tulisan

dibacanya.

 ”Yessss!!!!! Yesssss!!! Yessssss!!!!” tiba-tiba pemuda itu berteriak kegirangan sambil

mengepalkan kedua tangannya.Dilemparkannya majalah yang dibacanya itu keatas sambil

meloncat kegirangan.Raut bahagia jelas terpancar dari wajahnya.

”Alhamdulillahi Robbil Alamiin”

”Alhamdulillahi Robbil Alamiin”

”Alhamdulillahi Robbil Alamiin” pemuda itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur.

Tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya yang terus memperhatikan tingkahnya,

pemuda itu seperti menemukan bongkahan emas yang tak terhingga jumlahnya.

”Ada apa to mas Dodik,kok tertawa sendiri” suara Kipli mencoba mencari tahu pada pemuda itu.

”Ini lho pli,ada berita baik buat kita-kita para TKI” jawab pemuda itu.

”Kita ???? kamu aja keleeeesss...” sanggah Kipli dengan gaya bicara khasnya yang seperti anak

paling gaul sedunia.

”Dasar wong gemblung kamu Pli.Ini ni penting lho buat TKI-TKI seperti kita ini.Lihat ni,

sekarang di Kuala Lumpur ini sudah dibuka Universitas Terbuka Kelompok Belajar kuala

Lumpur Pli”

”Jadi kita bisa kuliah tanpa harus meninggalkan pekerjaan kita,dan nanti pulang kita bisa jadi

Sarjana” pemuda itu coba menjelaskan perihal berita yang baru dibacanya itu pada temannya.

”Walah,,, saya terima aja nasib jadi TKI mas.Paling-paling juga nanti pulang kampung ya

pegang cangkul” Kipli menjawab masih dengan gaya cueknya.

”Wes,terserah kamu aja Pli.Yang penting bagiku ini sebuah kesempatan untuk bisa mengenyam

pendidikan tinggi.Biar TKI tidak dipandang sebelah mata lagi. Soal nanti mau jadi apa itu yang

penting kita sudah berusaha.Ya siapa tau niatku jadi PNS seperti pamanku bisa tercapai.” Jawab

pemuda itu mencoba bersikap bijaksana.

Pembicaraan berhenti ketika nomer urut Kipli dipanggil untuk menyerahkan administrasi.

     Sekembalinya dari KBRI sang pemuda kecil itu terus mencari-cari info untuk mendaftar di

Universitas Terbuka itu.Akhirnya,setelah semua persyaratan lengkap resmilah pemuda itu

bergelar Mahasiswa.Sesuatu yang selama ini diimpikannya sudah berhasil dia capai.

Keinginannya untuk bisa melanjutkan kuliah akhirnya bisa terlaksana tanpa harus meninggalkan

pekerjaannya.

   ”Heny,Alhamdulillah aku sekarang bisa kuliah.Doakan aku ya semoga aku bisa pulang dengan

membawa modal untuk masa depan dan gelar Sarjana”gumam pemuda itu ketika memandangi

foto kecil didalam dompetnya yang sudah mulai usang.Tak henti-hentinya dipandanginya foto

gadis anggun berlesung pipi itu.Gadis yang selama ini dia damba dan idam-

idamkan.Kesederhanaan ditengah kemewahan yang membuat gadis itu mempunyai nilai tambah

dimata pemuda itu.

     Hari-hari pemuda itu kini berubah menjadi hari yang menyenangkan sekaligus

menyibukkan.Siang harinya dia akan bekerja mengawasi anak buahnya memasang satu demi

satu ubin keramik di sebuah proyek apartemen mewah di pinggiran kota Kuala Lumpur.Malam

harinya dia akan sibuk didepan laptop bututnya untuk belajar secara mandiri dan membaca satu

demi satu materi yang diberikan oleh tutornya sambil sesekali mengerjakan tugas.Dan bila hari

minggu tiba dia akan pergi ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur yang terletak disebelah stasiun

Komuter Putra.Disanalah dia belajar Tutorial Tatap Muka bersama ratusan mahasiswa lainnya

yang berasal dari kalangan pekerja.

     Disanalah dia menemukan sebuah keluarga baru yang membuatnya semakin semangat untuk

belajar.Kesamaan nasib menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia di negeri orang membuat

mereka seperti dipersatukan dalam sebuah ikatan yang kuat.Kesamaan tekad untuk merubah citra

Tenaga Kerja Indonesia yang sudah terlanjur di cap buruk menguatkan mereka untuk bisa

membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan miring itu tak selamanya benar.Berbagai kegiatan positif

mereka buat demi memartabatkan citra TKI di mata masyarakat sekitar.

     Syahdan,lima tahun sudah berlalu sejak pemuda itu meninggalkan kampung halamannya. Dia

sudah berhasil mewujudkan impiannya untuk membantu keluarganya.Begitupun gelar Sarjana

Ilmu Pemerintahan sudah digenggamnya.Tibalah saatnya pemuda itu untuk kembali ke kampung

halamannya.Bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya.

     Pagi itu,langit Kuala Lumpur mendung.Mentari seakan berduka dan tak mau menampakkan

dirinya.Pemuda kecil itu tergopoh-gopoh menuju taksi yang sudah menunggunya.Hari itu hari

terakhir dia di negeri Malaysia.Negeri yang selama lima tahun ini memberikan dia banyak

pelajaran dan kenangan. Negeri tempat dia mewujudkan impian dan harapannya.Sejenak

dipandanginya rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.Dipandanginya teman-teman

seperjuangannya sesama TKI. Terlihat raut sedih diwajah mereka. Kebersamaan selama lima

tahun di negeri orang akan berakhir hari ini.

   ”Kalian sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.Teruskan perjuangan kalian,kita sambung

silaturahmi kita dalam doa kita.” Pemuda itu mencoba memberikan sepatah dua patah kata.

Bulir airmata keluar dari kelopak matanya,meski ia mencoba untuk menahannya.

   ”Jaga diri kalian baik-baik disini.Ingat tujuan awal kita kesini.Kepada kalianlah bangsa ini

berharap.Semoga kesuksesan menyertai kalian” pamuda itu menutup pembicaraannya sambil

menjabat tangan teman-teman seperjuangannya satu persatu dan memeluknya.Suasana berubah

menjadi haru ketika pemuda itu mulai melangkah kedalam taksi yang sudah lama menunggu.

Lambaian tangan teman seperjuangannya mengantarkan pemuda itu meninggalkan negeri

Petronas itu.

     Bila langit Kuala Lumpur mendung sejak pagi,beda halnya dengan langit Kota Surabaya.

Cuaca cerah kota pahlawan seolah ingin menunjukkan kepada pemuda itu,bahwasanya dia

sedang tersenyum gembira menyambut kedatangan pahlawan devisa negara itu. Sebuah pesawat

Garuda Indonesia mulus mendarat di Bandara Internasional Juanda.Diantara seratusan lebih

penumpang itu keluarlah pemuda kecil menenteng sebuah koper.Begitu menginjakkan kaki di

negeri tercinta pemuda itu langsung bersujud.

    ”Alhamdulillahi Robbil Alamiin..” pemuda itu bersujud dengan mengucap syukur kepada

Allah.

Lima tahun perjalanannya di negeri orang telah dilaluinya denga selamat dan bisa dibilang

sukses.Setengah berlari kecil pemuda itu menuju ruang pemeriksaan imigrasi dan custom. Rasa

nya sudah tak sabar ingin segera bertemu dengn keluarga yang dicintainya.

    Di pintu kedatangan berdiri seorang lelaki yang rambutnya sudah memutih. Pak Uban begitu

orang-orang didesanya biasa memanggil.Disampingnya seorang wanita berusia 45 tahunan

sedang sibuk memperhatikan orang yang berlalu lalang didepannya.Wanita itu adalah Bu Siti

yang merupakan istri dari Pak Uban.Dari wajah mereka jelas terlihat sedang menunggu

seseorang.Kedua bola mata mereka selalu melihat ke arah pintu  dimana para penumpang

pesawat biasanya keluar. Merekalah kedua orangtua pemuda kecil itu.

   ”Emaaaakkk !!!!! Bapaaaakkk!!!!! ” pemuda kecil menjerit haru ketika dua orang yang sangat

disayanginya sekarang berada didepannya.

Sontak dilepaskannya koper yang dipegangnya dan dengan tergopoh dia menghampiri dua orang

yang tak lain orang tuanya itu. Tangis haru mewarnai pertemuan mereka. Lima tahun lamanya

mereka berpisah.Tak terhitung lagi berapa besar rasa rindu yang mereka rasa.

     Perjalanan menuju rumah mereka di Madiun memakan waktu sekitar 3 jam mengendarai

mobil.Didalam mobil mereka saling bercanda melepas kangen.Hingga perjalanan yang

melelahkan itu menjadi menyenangkan.Sudah banyak yang berubah dari negerinya. Sudah

banyak bangunan-bangunan pencakar langit berdiri dikiri kanan jalan yang mereka lalui.Sudah

banyak supermarket-supermarket besar yang berdiri.

     Sampai juga pemuda itu dirumah yang selama lima tahun ini dia tinggalkan. Rumah

sederhana yang dulu berlantaikan tanah dan berdinding anyaman bambu itu sekarang sudah

berubah menjadi rumah nan asri berlantaikan keramik dan lengkap dengan garasi

disampingnya.Tersenyum bahagia pemuda itu melihat apa yang selama ini diperjuangkannya

menjadi kenyataan.

     Ketika akan memasuki rumah,tanpa sengaja pemuda itu melihat sosok perempuan yang sudah

tidak asing lagi baginya sedang berjalan didepan rumahnya bersama seorang lelaki.Wanita yang

selama lima tahun ini fotonya selalu setia dipandanginya. Mengisi ruang didompetnya. Yaaaa...

perempuan itu adalah Heny. Gadis yang selama ini diimpikannya. Tapi siapa lelaki yang berjalan

dengannya itu??? Pemuda itu mengernyitkan dahi tanda penasaran.

”Masuklah dulu nak” suara bu Siti membuyarkan lamunan pemuda itu.

 Pemuda itupun masuk dan merebahkan tubuhnya ke sofa biru di ruang tamu.

  ”Maafkan emak nak,gak pernah menceritakan soal pacarmu itu” si emak membuka

percakapannya dengan anaknya.

   ”Mereka baru saja menikah sebulan yang lalu.Suaminya itu adalah anak dari teman ayahnya si

Heny.Mereka dijodohkan oleh kedua orangtuanya meskipun si Heny gak mau.” Bu Siti coba

menjelaskan.

   “Emak sengaja tidak memberitahumu agar kamu gak berpikiran macam-macam disana. Sabar

ya nak,mungkin memang bukan jodohmu.Mak yakin Gusti Allah akan memberikan kamu

penggantinya yang lebih baik.” Bu Siti mencoba menenangkan anaknya sambil merangkul dan

mengelus kepala anaknya itu.

   “Nggak apa-apa kok mak,mungkin memang benar kata emak kalau dia bukan jodohku.”

Pemuda itu menjawab pelan.

   ”Setidaknya saya bersyukur bisa mengenal dan mengaguminya.Saya juga yang salah karena

nggak pernah memberi dia kabar selama ini”pemuda kecil itu menjawab kemudian pamitan ke

ibunya mau masuk ke kamar.

     Sesampainya di kamar,pemuda itu membuka dompet kesayangannya. Dikeluarkannya foto

yang selama ini setia menemaninya.Foto gadis anggun berjilbab ungu yang sekarang sudah

menjadi milik orang lain.

   ”Selamat menempuh hidup baru Hen,semoga kamu bahagia selamanya bersama suamimu.”

Pemuda kecil itu berkata lirih sambil memandangi foto yang sudah basah dengan airmatanya.

   ”Terima kasih sudah menjadi penyemangat hidupku selama ini,karenamu aku bisa seperti

sekarang ini.Tanpamu mungkin aku masih seorang pemuda yang tak tau arah.Mungkin Allah

memang sengaja mengirimkanmu untuk menjadi malaikat penyemangatku dan bukan sebagai

istriku” lirih pemuda itu.

     Pemuda itu beranjak dari tempat tidurnya.Kemudian dia bergegas pergi ke sungai yang tak

jauh dari rumahnya.Dipandanginya sejenak foto yang selama ini menemaninya sebelum akhirnya

pemuda itu menghanyutkan foto itu kedalam aliran sungai.Hanyut bersama rasa cintanya yang

tak pernah kesampaian. Meninggalkan kenangan yang takkan pernah terlupakan.

     Syahdan,pemuda itu kemudian berhasil mencapai impiannya menjadi seorang Pegawai

Negeri Sipil dan bekerja sebagai Staf Camat di kantor kecamatan tempat dia tinggal.Disanalah

akhirnya dia bertemu dengan seorang gadis cantik berjilbab bernama Aulia Zahra.Akhir cerita

mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 3 orang anak dan hidup berbahagia.Begitulah kalau

Tuhan sudah berkehendak.Apapun tidak ada yang mustahil di dunia ini. Apa yang penting adalah

kita jangan pernah berhenti untuk berusaha sekuat tenaga.

Sunday, 5 April 2015

OSMB UNIVERSITAS TERBUKA POKJAR KUALA LUMPUR


Mahasiswa baru berfoto bersama dengan Bapak Dubes dan Wakil Dubes,Rektor UT,Bapak Atdikbud KBRI KL dan Pembantu Rektor IV,Kepala UPBJJ UT Batam dan Jajaran Perwakilan Bank Mandiri Indonesia di Aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur
Bertempat di Aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur,Universitas Terbuka Kelompok Belajar Kuala Lumpur mengadakan Orientasi Studi Mahasiswa Baru dan Kuliah Umum yang diselenggarakan pada hari Minggu,5 April 2015.

Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Malaysia Marsekal TNI (Purn.)Herman Prayitno,Wakil Duta Besar Bapak Hermono,Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Prof.Dr.Ir.H.Ari Purbayanto, M.sc.,Rektor Universitas Terbuka Prof.Ir.Tian Belawati M.Ed,Ph.D.,Pembantu Rektor IV Universitas Terbuka Dr.Muhammad Yunus, MA,Kepala UPBJJ UT Batam Drh. Ismed Sawir, M.Sc.,Koordinator UT Malaysia Bapak Taufik Hasyim Salengke MA,beserta seluruh Pengurus Universitas Terbuka Kelompok Belajar Kuala Lumpur serta Pimpinan dan Staff Bank Mandiri Indonesia Kuala Lumpur.

Acara dimulai tepat pukul 09.30 pagi dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh saudari Astrid Eliza salah seorang mahasiswi UT Pokjar KL dan pembacaan doa oleh saudara Syarif Hidayat yang juga seorang Mahasiswa UT Pokjar KL.Acara dilanjutkan sambutan sekaligus laporan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Ari Purbayanto dimana dalam laporannya tersebut beliau mengatakan bahwa jumlah mahasiswa UT di Malaysia yang aktif semakin bertambah banyak hingga mencapai 500 lebih. dan beliau berharap kedepannya UT akan terus berkembang pesat dengan pengelolaan yang lebih profesional.

Setelah laporan dari Atdikbud dilanjutkan dengan sambutan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia Bapak Herman Prayitno. Mengawali sambutan dengan sebuah pantun,kemudian Bapak Dubes memperkenalkan dirinya bahwa beliau juga adalah alumni Universitas Terbuka juga yang kontan langsung membuat seluruh yang hadir memberikan tepuk tangan yang luar biasa. belia berpesan kepada seluruh mahasiswa UT untuk bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya antara bekerja dengan belajar.Sebelum menutup sambutannya,Bapak Dubes kembali membaca sebuah pantun yang membuat seluruh hadirin kembali bertepuk tangan.
Setelah selesai memberikan sambutan dan motivasinya,Bapak Duta Besar kemudian meresmikan sesi perkuliahan untuk mahasiswa baru dengan memakaikan jas almameter secara simbolik kepada 2 mahasiswa UT Pokjar Kuala Lumpur dan seorang mahasiswa UT Pokjar Pulau Pineng.
Bapak Duta Besar memakaikan jas almameter kepada mahasiswa baru secara simbolik sebagai peresmian sesi perkuliahan mahasiswa baru intake 2015.1

Acara kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Rektor UT Prof.Ir.Tian Belawati M.Ed.Ph.D. Dalam kuliahnya Ibu Rektor memberikan banyak motivasi kepada mahasiswa agar kedepannya bisa muncul lagi seorang alumni UT menjadi duta Besar seperti halnya Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Bapak Herman Prayitno yang merupakan alumni UT yang kemudian kembali membuat seluruh hadirin memberikan tepuk tangannya. Selain itu,beliau juga memberikan informasi umum seputar UT dan tips-tips belajar untuk seluruh mahasiswa.

Setelah Kuliah Umum oleh Rektor UT selesai dilanjutkan dengan pemberian motivasi oleh Kepala UPBJJ UT Batam Drh.Ismed Sawir M.Sc. Beliau memberikan tips-tips yang efektif dalam belajar secara mandiri. Salah satunya adalah bahwa cara terbaik untuk kita bisa memahami materi pembelajaran adalah kita harus tertarik dengan apa yang kita pelajari tersebut seperti halnya kita tertarik untuk membaca sebuah berita di koran ataupun cerita dalam novel. Sehingga bila kita sudah tertarik,maka materi yang kita pelajari tersebut akan dengan mudah tersimpan didalam otak.

Terakhir kalinya diadakan sosialisasi oleh pihak Bank Mandiri. Yang mana kedepannya pihak Bank Mandiri akan membantu proses pembayaran registrasi mahasiswa sehingga diharapkan mahasiswa bisa lebih mudah dan terstruktur dalam pembayaran registrasinya nanti. Dan menjamin proses registrasi akan berjalan lancar.

Acara kemudian diakhiri dengan makan bersama sebelum seluruh mahasiswa dan semua yang hadir kembali ke rumahmasing-masing.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons