Mimpi Sang Pemuda Kecil
Menjadi seorang TKI sebenarnya bukanlah sebuah impian dari pemuda polos itu.Sejak kecil dia selalu bercita-cita menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil seperti halnya pamannya.Tetapi apalah daya,manusia hanya bisa berencana.Tuhan pula yang tentukan hasilnya.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Tuesday, 16 August 2016
BANGSAKU MENANGIS LIRIH
BANGSAKU MENANGIS LIRIH
350 tahun...
Bangsaku berjuang untuk merdeka
Keringat tercurah darah tertumpah
Demi bangsaku bebas dari penjajah
Ribuan nyawa pahlawan terkorban
Jutaan anak kehilangan Bapak
Gugur demi Ibu Pertiwi
Bumi nan gemah ripah loh jinawi
Bambu runcing melawan meriam nan berdesing
Pantang mundur pejuang bangsaku
Pekik takbir,tahmid,dan tahlil
Merdeka atau mati terpatri dihati
Demi sebuah kemerdekaan bagi bangsa ini
71 tahun sudah bangsaku merdeka
Terbebas dari belenggu kolonialisme
Namun apakan daya
Kemerdekaan ini tidak untuk semua rakyatnya
Ribuan anak tak bisa sekolah
Ratusan sekolah tak layak gedungnya
Sementara di daerah nan jauh terpencil
Layanan kesehatan sulit untuk dinikmati
Jutaan orang mengadu nasib jadi TKI
Menjadi hamba di negeri orang
Di seberang sana TKW-TKW dipamerkan
Dipajang di pusat-pusat perbelanjaan
Ditawarkan seperti barang dagangan
Sementara para penguasa
Sibuk mengurus isi perutnya
Beradu intrik jatuhkan lawan politik
Seakan lupa akan semua janji-janjinya
Wahai kalian pejabat yang terhormat
Tidakkah matamu bisa melihat
Tidakkah telingamu bisa mendengar
Rakyatmu semakin sengsara
Menjerit dan tidak berdaya
Dengarlah,..
Dengarlah dengan hati kalian
Bangsa ini sedang menangis lirih
Menumpahkan airmata penderitaan
Karena kesejahteraan rakyatnya
Tak sebanding dengan kekayaan alamnya
Aku mendengar..
Dengar lirih,.. lirih sekali
Bangsaku ini sedang menangis
Dan seakan ingin berbisik
Selamatkan aku dari penjajahan model baru
Kuala Lumpur,17 Agustus 2016
Thursday, 4 August 2016
SI PENCARI RUMPUT DAN PENGGEMBALA KAMBING
SI PENCARI RUMPUT DAN PENGGEMBALA KAMBING
![]() |
| Gambar Ilustrasi diambil dari Google |
Masa kecil tiap orang tentu berbeda-beda,pun begitu dengan masa kecilku. Bisa dibilang,masa kecilku penuh dengan tantangan dan penuh dengan perjuangan.Sedikit cerita dibawah ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana dahsyatnya masa kecilku.
Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku seorang pamong desa dengan penghasilan sekedarnya. Ibuku pula hanyalah ibu rumah tangga sebagaimana layaknya ibu-ibu lainnya. Dengan sesekali beliau ke sawah untuk menjadi buruh tani yang akan menerima upah hanya apabila panen telah tiba dari si pemilik sawah.
Aku dititipkan kepada kakek nenekku yang rumahnya terletak lebih dari 10 kilometer dari rumah kedua orangtuaku.Dan bersama merekalah masa kecilku aku habiskan hingga aku dewasa.Kakekku seorang petani yang bisa dibilang sangat sukses.Sawahnya tersebar dimana-mana. Beliau juga beternak sapi,kambing,ayam,dan bebek.Bisa dibayangkan betapa sibuknya beliau dalam aktifitas kesehariannya. Kakekku orangnya sangat disiplin. Meskipun beliau termasuk orang yang berkecukupan,tapi beliau selalu mengajarkan kepada anak cucunya untuk bekerja keras dan tidak berpangku tangan. Semua anak-anaknya diperlakukan sama, Termasuk diajak membantu pekerjaan beliau disawah. Hal itu terjadi juga padaku.
Tiap hari sepulang dari sekolah,aku akan menggembalakan kambing-kambing punya kakekku sambil mencarikan rumput untuk sapi-sapinya. Disaat teman-teman yang lain bermain bebas sehabis sekolah,aku juga bermain dengan kambing-kambing peliharaanku itu. Tapi dasarnya bocah,ketika mencari rumput aku dulu suka membohongi kakekku. Rumputnya tidak aku isi dengan penuh,melainkan dengan mengonggokkan dibagian atas sehingga nampak seolah-olah keranjangnya penuh oleh rumput. Kakekku tahu apa yang aku lakukan hanya tertawa. Karena sebenarnya niat beliau nyuruh aku mencari rumput lebih karena untuk mendidik aku agar terbiasa bekerja keras sehingga kelak tidak berpangku tangan dengan keadaan.
Di masa kecilku,aku termasuk anak yang terbilang pandai di sekolah. Karena kepandaianku itu,aku banyak disukai oleh teman-temanku. Hal itu yang kemudian aku manfaatkan untuk membantuku mencari rumput dan menggembalakan kambing. Biasanya sehabis sekolah,teman-temanku akan datang kerumahku. Lalu kuajaklah mereka "bekerja".hehehee... Tapi yang aku heran,mereka malah senang membantu aku. Padahal kadang akunya sendiri malah tidak mencari rumput. Saat teman-temanku itu mencari rumput,akunya malah asyik memanjat pohon untuk mencari sarang burung. Pernah juga sampai terjatuh dari atas pohon ketika sedang mengambil sarang burung,tiba-tiba saja rantingnya patah. Daaaaan,bruuuuaaaaakkkkk... aku tersungkur dengan rantingnya sekali. Andai saja aku tidak terjatuh bersamaan dengan rantingnya,mungkin akan cedera parah.
Sepulang mencari rumput,kami akan mandi di sungai belakang rumahku. Memanjat pohon yang berada di tepi sungai dan terjun kebawah. Byuuuuuurrrrrrr,dan kami tertawa bersama-sama. Balapan renang atau bermain petak umpet didalam air menambah keseruan kami bermain di sungai. Ataupun kalau tidak,kami akan beradu siapa yang paling lama ketika menyelam (dalam bahasa Jawa kami menyebutnya slulup) di dalam air. Nanti yang kalah akan dihukum harus menggendong atau memikul yang menang dan berjalan di air.
Biasanya kami akan berhenti mandi disungai ketika salah satu dari orangtua kami datang sambil bawa kayu untuk menakut-nakuti kami. Seketika kami akan berhamburan dari sungai dalam keadaan telanjang sambil menenteng baju kami masing-masing. Setelah memastikan kami aman dari kejaran ,baru kami memakai baju. Tak jarang kaki kami terkena duri pohon bambu yang kami injak-injak ketika dalam "pelarian".
Selesai mandi di sungai,kami bergegas untuk bermain bola di jalanan desa kami. Kenapa dijalan ? hehehe,, bagi masa kecil kami,lapangan dulu sangat langka. Bahkan bola yang kami pakaipun dari bola plastik. Hasil dari patungan bersama. Biasanya anak yang tidak ikut patungan,tidak boleh ikut main bola. Itu sudah menjadi hukum tetap diantara kami. Ada juga yang tidak boleh ikut bermain bola karena tidak ikut patungan pulang dan lapor ke orangtuanya. Lalu orangtuanya datang sambil bawa kayu (kayu jaman dulu sangat efektif untuk menakuti kami,hihihi..). Akhirnya baru deh si anak diperbolehkan ikut main tapi dengan syarat kalau bolanya meletus harus bayar dobel untuk beli lagi.
Jika hari libur sekolah tiba,biasanya aku akan membantu kakekku di sawah. Apalagi jika padi disawah mulai menguning,bisa dipastikan hampir setiap hari aku akan menghabiskan waktuku disawah untuk menunggu tanaman padi dari gangguan burung pipit. Hal itu terjadi hampir di setiap musim panen akan tiba. Bila panen tiba,tiap pagi dan sore,aku bersama kakakku dan paman yang masih ikut kakek akan menjemur padi. Mengeluarkan dari rumah di pagi hari lalu sorenya memasukkan ke lumbung setelah dibersihkan pakai alat yang bernama blower (biasanya berupa kipas buatan untuk memilih padi yang jelek agar tidak bercampur dengan yang bagus). Setelah musim panen selesai,hari yang aku tunggupun tiba. Biasanya nenekku akan mengajakku ke pasar membelikan aku baju baru. Wuihh,senangnya bukan main waktu itu.
Di masa kecilku,belum ada listrik masuk ke desaku. Kalau malam tiba,lampu petromak akan dinyalakan untuk menerangi rumah. Itupun hanya di ruang tamu dan ruang keluarga. Dan terbatas hanya sampai jam 9 malam saja. Kamar-kamar cukuplah pakai lampu ublik (lampu yang dibuat dari botol bekas obat padi yang dikasih sumbu dari kain dan diisi minyak tanah sebagai bahan bakarnya). Ketika belajarpun aku memakai lampu ublik itu. Pernah suatu waktu,ketika sedang serius mengerjakan PR,tanpa sadar rambutku mendekat ke lampu ublik. Bisa dibayangkan rambutku terbakar api meski hanya sedikit karena aku segera menyadarinya ketika memghidu bau hangus. Buku-bukupun akan berbau minyak tanah karena kadang bersentuhan dengan lampu.
Saat bulan bersinar terang diatas langit desa kami,itulah saat yang kami tunggu-tunggu. Aku dan teman-temanku berkumpul dan bermain. Kadang main gobak sodor atau bentengan. Bila sudah bosan,kami beralih main bola. Lebih seru lagi ketika musim panen kedelai tiba bersamaan dengan bulan purnama. Kami akan membakar kedelai dengan daun pisang kering lalu setelah siap kami makan bersama-sama di jalan. Namanya juga bakar-bakar dijalan. jangan tanya kotor atau tidaknya. Bahkan kami sengaja mengotori muka kami dengan abu bekas pembakaran. Kami saling mencoreng muka teman kami,saling balas satu sama lain tanpa ada rasa marah. Setelah puas,baru kami bergegas kesungai untuk mandi dan membersihkan diri.
Tiap malam,aku biasanya tidur di surau depan rumahku. Banyak teman-teman juga yang tidur disana. Namanya anak kecil,gak akan puas kalau gak ngusilin temannya. Bila ada anak yang sudah tidur,kami biasa usil dengan menaruh garam ke mulutnya. Kemudian kami ikat jempol kakinya dengan kain sarungnya. Lebih ekstrim lagi kami guyur pakai air ke mukanya. Maka karena kaget dan marah,teman yang tidur tadi bangun dan terus beranjak mengejar kami. Namun dia tidak menyadari bahwa jempol kakinya sudah diikat. Maka dia akan jatuh tersungkur dan kamipun tertawa terbahak-bahak. Sebuah keusilan yang membuat teman sengsara tapi tidak pernah membuat kami saling dendam. Paling marah sebentar besoknya sudah mandi di sungai bareng lagi. Hihihi...
Itulah sekelumit kisah tentang masa kecilku,benar-benar masa yang paling membahagiakan. Penuh canda tawa bahagia dalam berbagai keadaan. Kami bisa tertawa ketika sedang mencari rumput. Kami bisa tertawa ketika menggembala kambing dengan naik ke atas kambing dan balapan. Kami bisa bahagia bahkan ketika sedang dimarahi orang tua kami. Bukannya menangis tapi malah cekikikan. Dan yang pasti,kami bisa tertawa bahagia dengan minimnya teknologi,minimnya penerangan,dan jauh dari kata modern. Sebuah kisah kecil yang mungkin tidak akan terjadi lagi pada anak-anak dan cucuku kelak.
Kalau melihat anak kecil jaman sekarang. Aku merasa kasihan dengan mereka. Masih kecil sudah pegang hp,tab,ipad dan sejenisnya. Tak jarang aku lihat mereka main game online di warnet. Padahal jamanku dulu untuk punya game boat aja harus menabung dulu. Paling banter kami akan mengorek celengan kami untuk main video game di kota. Tapi masa kecil kami benar-benar penuh dengan keseruan ditengah keterbatasan. Dan yang bisa aku harap untuk anak-anak masa kini. Semoga mereka bisa memanfaatkan teknologi yang semakin canggih ini dengan hal-hal yang berguna. Bukan malah sebaliknya. Karena ditangan merekalah,kelak negeri ini berharap ditengah persaingan global yang semakin sulit. Doaku untukmu generasi penerus bangsa.
Posted in: sastra


10:53
Gus Pur
