Tuesday, 1 November 2016

JADI PREMAN DI NEGERI JIRAN


     Malam itu, aku sedang duduk didepan rumah. Ketika dua orang yang sudah aku kenal mendatangiku. Sebut saja nama  mereka Pak Manan dan Badrun. Mereka adalah para pekerja kawanku. Sama-sama bekerja ikut bos yang sama.
     Aku tidak menaruh kecurigaan apapun dengan kedatangan mereka, karena selain sudah kenal dengan mereka, aku juga berkawan baik dengan kepala kerja mereka, yang tak lain adalah sahabatku sendiri sejak kecil. Pak Manan berbasa basi sebentar kepadaku, sebelum dia mengungkapkan maksud hatinya. Tercium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulutnya. Disitu aku  mulai merasakan sesuatu yang tak beres. Tapi demi menghormati mereka, aku tetap melayani pembicaraan dengan mereka.
     “Mas, mas Agus ada duit gak ? kalau ada saya mintalah sedikit buat tambah beli minum teman-teman.” bisik Pak Manan kepadaku.
     “Wahh, lagi garing ini Pak, sudah lama belum gaji. Ini ada sedikit buat jatah makan saya dua minggu Pak.” balasku kemudian.
     Dengan raut agak kecewa saya lihat Pak Manan berbisik kepada Badrun kawannya. Setelah itu diapun berpamitan.
     “Ya sudah kalau begitu mas, saya balik dulu ya”
     Kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan aku yang masih tetap duduk sendirian sambil sesekali membalas pesan yang masuk dari tunanganku di Indonesia. Suasana malam itu terasa hening. Bintang dilangit berkerumun seakan ingin melihat bumi bersama-sama. Suara jangkrik dan sesekali bunyi burung malam terdengar sayup-sayup dari hutan di belakang rumahku. Ya, aku memang tinggal didekat hutan di pinggiran Kota Pasir Gudang Johor Bahru. Disana banyak tinggal dan bekerja orang-orang Indonesia yang juga sama-sama mengadu nasib menjadi TKI sepertiku.
     Hari sudah beranjak malam, ketika dari kejauhan kulihat segerombol orang sedang berjalan kearahku. Sontak aku kaget, suara merka yang gaduh seakan membuatku makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
    “woii, kamu yang namanya Agus ?” teriak salah seorang dari mereka setelah tiba didepan rumahku.
    “i..iya mas, ada apa ya?” jawabku setengah terbata-bata.
    “Jangan sok kamu jadi orang, dimintai uang buat minum aja pelit” lanjut sosok kekar yang sekarang sudah berdiri didepanku itu.
    “Sok bagaimana sih Pak, saya memang lagi gak punya uang, ini ada sedikit buat jatah makan saya 2 minggu kedepan” aku mencoba memberikan penjelasan.
     Ternyata mereka adalah teman-teman Pak Manan yang tadi baru saja datang meminta uang kepadaku. Mendengar jawabanku, sosok kekar didepanku tiba-tiba saja menanting kerah bajuku. Teman-temannya yang berjumlah 20 an orang lebih mulai mendekatiku. Wajah-wajah beringas terlihat jelas didepan mataku.
     Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat dari belakangku. Aku hanya sempat melihat tanpa bisa menangkis ataupun membalas pukulan itu. Tubuhku dipegangi oleh mereka. Malam itu aku benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku. Satu persatu saku celana dan jaketku diperiksa oleh mereka. Handphone dan uang yang seharusnya untuk jatah makanku 2 minggu mereka bawa. Aku berteriak mengiba kepada mereka agar menyisakan uangku untuk makan. Namun yang terjadi malah mereka bertindak semakin beringas. Aku dipukuli beramai-ramai. Bahkan teman-temanku tak ada yang berani menolongku,. Mereka hanya terdiam terpaku melihatku. Mereka diancam akan ikut dihajar jika membantuku. Dari sinar mata mereka terlihat raut iba melihatku. Tapi mereka tak berani bergerak karena mereka tahu siapa yang mereka hadapi ini.
     Aku terus bergumul dengan para pengeroyokku itu. Hingga di suatu kesempatan aku berhasil melepaskan diri dari orang-orang yang memegangiku. Seketika aku berlari sekuat tenaga menuju hutan yang berada di belakang rumahku. Syukurlah, mereka tak berhasil mengejarku. Mungkin pengaruh minuman keras membuat mereka seperti kehabisan tenaga untuk berlari mengejarku seorang diri.
     Malam itu aku bersembunyi dihutan, aku yang sebenarnya seorang penakut memberanikan diri untuk terus didalam hutan menunggu pagi tiba. Sayup-sayup terdengar suara musik dangdut yang diputar sambil sesekali juga ada teriakan-teriakan orang yang sepertinya sedang berjoget ria menimati alunan musik. Tak salah lagi, suara musik itu berasal dari tempat orang-orang yang mengeroyokku tadi. Mereka biasa melakukan pesta minuman dan wanita bersama-sama. Uangnya berasal dari memeras mereka yang tidak berdaya.
     Setelah semalaman bersembunyi dan menahan takut dihutan, akupun kaluar menuju rumahku. Kulihat teman-temanku suddah menantikan kedatanganku didepan rumah. Mereka semua memelukku dan seakan merasa bersalah.
    “Maafkan kami ya mas, kami tidak bisa berbuat apa-apa ketika kamu dikeroyok sama begundal-begundal itu” ucap salah seorang temanku.
    “gak apa-apa, saya tau kok gimana perasaan kalian, kalau saya jadi kalianpun saya mungkin juga gak akan bisa berbuat apa-apa” sahutku kemudian.
     Akupun masuk kedalam rumah. Sambil meringis memegangi pipi dan sebagian kepalaku yang bocor. Malam tadi bukanlah kejadian pertama aku kehilangan harta bendaku. Di daerah Johor Bahru hal-hal seperti itu sudah sering berlaku. Pemerasan disertai kekerasan yang justru dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Pernah juga aku ditodong golok dan ditempelkan tepat ditelingaku.
    “Kamu pilih handphone mu atau pilih telingamu yang hilang?” suara dari belakangku sambil membentak.
     Aku hanya diam saja ketika akhirnya orang itu merampas handphone yang aku pegang. Kemudian dengan santainya orang itu pergi meninggalkan aku. Itu adalah kejadian pertama kali aku diperas disini. Selama setahun bekerja di negeri Johor, aku sudah 3 kali merasakan pemerasan. Belum lagi teman-temanku dan para TKI yang lain.
     Di Johor ketika itu sangat terkenal dengan istilah Joker. Yaitu sebutan untuk seorang ketua geng atau preman yang menguasai suatu wilayah tertentu. Kebanyakan Joker akan memiliki puluhan anggota dimana mereka tidak pernah mau bekerja. Kerja mereka adalah memeras para TKI yang sebenarnya masih sebangsa dengan mereka. Pernah suatu ketika ada sebagian dari mereka yang diperas itu melawan, tapi mereka akhirnya malah dikeroyok dan dipukuli oleh gerombolan preman itu. Sang Joker biasanya tidak pernah turun langsung untuk memeras,mereka hanya akan turun jika ada mangsa besar dengan kasus besar. Dengan dalih mau mendamaikan kasus mereka kemudian meminta sejumlah uang dalam jumlah yang besar. Padahal sebenarnya kasus itu sengaja mereka rekayasa sendiri.
     Begitulah pengalaman yang pernah aku alami selama setahun tinggal dan bekerja di Johor. Banyak orang Indonesia tinggal disana,tapi justru sebagian besar dari mereka pulalah yang membuat onar dan memeras saudara sebangsa mereka sendiri. Orang Indonesia memanglah pemberani. Bahkan di negeri orangpun mereka bisa menguasai sebuah wilayah dan menjadi preman di wilayah tersebut. Orang Indonesia kok dilawan.



Tuesday, 16 August 2016

BANGSAKU MENANGIS LIRIH

BANGSAKU MENANGIS LIRIH

350 tahun...
Bangsaku berjuang untuk merdeka
Keringat tercurah darah tertumpah
Demi bangsaku bebas dari penjajah

Ribuan nyawa pahlawan terkorban
Jutaan anak kehilangan Bapak
Gugur demi Ibu Pertiwi
Bumi nan gemah ripah loh jinawi

Bambu runcing melawan meriam nan berdesing
Pantang mundur pejuang bangsaku
Pekik takbir,tahmid,dan tahlil
Merdeka atau mati terpatri dihati
Demi sebuah kemerdekaan bagi bangsa ini

71 tahun sudah bangsaku merdeka
Terbebas dari belenggu kolonialisme
Namun apakan daya
Kemerdekaan ini tidak untuk semua rakyatnya

Ribuan anak tak bisa sekolah
Ratusan sekolah tak layak gedungnya
Sementara di daerah nan jauh terpencil
Layanan kesehatan sulit untuk dinikmati

Jutaan orang mengadu nasib jadi TKI
Menjadi hamba di negeri orang
Di seberang sana TKW-TKW dipamerkan
Dipajang di pusat-pusat perbelanjaan
Ditawarkan seperti barang dagangan

Sementara para penguasa
Sibuk mengurus isi perutnya
Beradu intrik jatuhkan lawan politik
Seakan lupa akan semua janji-janjinya

Wahai kalian pejabat yang terhormat
Tidakkah matamu bisa melihat
Tidakkah telingamu bisa mendengar
Rakyatmu semakin sengsara
Menjerit dan tidak berdaya

Dengarlah,..
Dengarlah dengan hati kalian
Bangsa ini sedang menangis lirih
Menumpahkan airmata penderitaan
Karena kesejahteraan rakyatnya
Tak sebanding dengan kekayaan alamnya

Aku mendengar..
Dengar lirih,.. lirih sekali
Bangsaku ini sedang menangis
Dan seakan ingin berbisik
Selamatkan aku dari penjajahan model baru

Kuala Lumpur,17 Agustus 2016




Thursday, 4 August 2016

SI PENCARI RUMPUT DAN PENGGEMBALA KAMBING

    SI PENCARI RUMPUT DAN PENGGEMBALA KAMBING

Gambar Ilustrasi diambil dari Google
     Setiap orang tentu pernah mengalami masa kecil. Bagi sebagian besar orang,masa kecil dianggap sebagai masa-masa yang paling membahagiakan. Sehingga ada istilah "masa kecil kurang bahagia" diberikan kepada orang yang bersifat atau bersikap seperti anak kecil.

     Masa kecil tiap orang tentu berbeda-beda,pun begitu dengan masa kecilku. Bisa dibilang,masa kecilku penuh dengan tantangan dan penuh dengan perjuangan.Sedikit cerita dibawah ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana dahsyatnya masa kecilku.

     Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku seorang pamong desa dengan penghasilan sekedarnya. Ibuku pula hanyalah ibu rumah tangga sebagaimana layaknya ibu-ibu lainnya. Dengan sesekali beliau ke sawah untuk menjadi buruh tani yang akan menerima upah hanya apabila panen telah tiba dari si pemilik sawah.

     Aku dititipkan kepada kakek nenekku yang rumahnya terletak lebih dari 10 kilometer dari rumah kedua orangtuaku.Dan bersama merekalah masa kecilku aku habiskan hingga aku dewasa.Kakekku seorang petani yang bisa dibilang sangat sukses.Sawahnya tersebar dimana-mana. Beliau juga beternak sapi,kambing,ayam,dan bebek.Bisa dibayangkan betapa sibuknya beliau dalam aktifitas kesehariannya. Kakekku orangnya sangat disiplin. Meskipun beliau termasuk orang yang berkecukupan,tapi beliau selalu mengajarkan kepada anak cucunya untuk bekerja keras dan tidak berpangku tangan. Semua anak-anaknya diperlakukan sama, Termasuk diajak membantu pekerjaan beliau disawah. Hal itu terjadi juga padaku.

     Tiap hari sepulang dari sekolah,aku akan menggembalakan kambing-kambing punya kakekku sambil mencarikan rumput untuk sapi-sapinya. Disaat teman-teman yang lain bermain bebas sehabis sekolah,aku juga bermain dengan kambing-kambing peliharaanku itu. Tapi dasarnya bocah,ketika mencari rumput aku dulu suka membohongi kakekku. Rumputnya tidak aku isi dengan penuh,melainkan dengan mengonggokkan dibagian atas sehingga nampak seolah-olah keranjangnya penuh oleh rumput. Kakekku tahu apa yang aku lakukan hanya tertawa. Karena sebenarnya niat beliau nyuruh aku mencari rumput lebih karena untuk mendidik aku agar terbiasa bekerja keras sehingga kelak tidak berpangku tangan dengan keadaan.

     Di masa kecilku,aku termasuk anak yang terbilang pandai di sekolah. Karena kepandaianku itu,aku banyak disukai oleh teman-temanku. Hal itu yang kemudian aku manfaatkan untuk membantuku mencari rumput dan menggembalakan kambing. Biasanya sehabis sekolah,teman-temanku akan datang kerumahku. Lalu kuajaklah mereka "bekerja".hehehee... Tapi yang aku heran,mereka malah senang membantu aku. Padahal kadang akunya sendiri malah tidak mencari rumput. Saat teman-temanku itu mencari rumput,akunya malah asyik memanjat pohon untuk mencari sarang burung. Pernah juga sampai terjatuh dari atas pohon ketika sedang mengambil sarang burung,tiba-tiba saja rantingnya patah. Daaaaan,bruuuuaaaaakkkkk... aku tersungkur dengan rantingnya sekali. Andai saja aku tidak terjatuh bersamaan dengan rantingnya,mungkin akan cedera parah.

     Sepulang mencari rumput,kami akan mandi di sungai belakang rumahku. Memanjat pohon yang berada di tepi sungai dan terjun kebawah. Byuuuuuurrrrrrr,dan kami tertawa bersama-sama. Balapan renang atau bermain petak umpet didalam air menambah keseruan kami bermain di sungai. Ataupun kalau tidak,kami akan beradu siapa yang paling lama ketika menyelam (dalam bahasa Jawa kami menyebutnya slulup) di dalam air. Nanti yang kalah akan dihukum harus menggendong atau memikul yang menang dan berjalan di air.

     Biasanya kami akan berhenti mandi disungai ketika salah satu dari orangtua kami datang sambil bawa kayu untuk menakut-nakuti kami. Seketika kami akan berhamburan dari sungai dalam keadaan telanjang sambil menenteng baju kami masing-masing. Setelah memastikan kami aman dari kejaran ,baru kami memakai baju. Tak jarang kaki kami terkena duri pohon bambu yang kami injak-injak ketika dalam "pelarian".

     Selesai mandi di sungai,kami bergegas untuk bermain bola di jalanan desa kami. Kenapa dijalan ? hehehe,, bagi masa kecil kami,lapangan dulu sangat langka. Bahkan bola yang kami pakaipun dari bola plastik. Hasil dari patungan bersama. Biasanya anak yang tidak ikut patungan,tidak boleh ikut main bola. Itu sudah menjadi hukum tetap diantara kami. Ada juga yang tidak boleh ikut bermain bola karena tidak ikut patungan pulang dan lapor ke orangtuanya. Lalu orangtuanya datang sambil bawa kayu (kayu jaman dulu sangat efektif untuk menakuti kami,hihihi..). Akhirnya baru deh si anak diperbolehkan ikut main tapi dengan syarat kalau bolanya meletus harus bayar dobel untuk beli lagi.

     Jika hari libur sekolah tiba,biasanya aku akan membantu kakekku di sawah. Apalagi jika padi disawah mulai menguning,bisa dipastikan hampir setiap hari aku akan menghabiskan waktuku disawah untuk menunggu tanaman padi dari gangguan burung pipit. Hal itu terjadi hampir di setiap musim panen akan tiba. Bila panen tiba,tiap pagi dan sore,aku bersama kakakku dan paman yang masih ikut kakek akan menjemur padi. Mengeluarkan dari rumah di pagi hari lalu sorenya memasukkan ke lumbung setelah dibersihkan pakai alat yang bernama blower (biasanya berupa kipas buatan untuk memilih padi yang jelek agar tidak bercampur dengan yang bagus). Setelah musim panen selesai,hari yang aku tunggupun tiba. Biasanya nenekku akan mengajakku ke pasar membelikan aku baju baru. Wuihh,senangnya bukan main waktu itu.

     Di masa kecilku,belum ada listrik masuk ke desaku. Kalau malam tiba,lampu petromak akan dinyalakan untuk menerangi rumah. Itupun hanya di ruang tamu dan ruang keluarga. Dan terbatas hanya sampai jam 9 malam saja. Kamar-kamar cukuplah pakai lampu ublik (lampu yang dibuat dari botol bekas obat padi yang dikasih sumbu dari kain dan diisi minyak tanah sebagai bahan bakarnya). Ketika belajarpun aku memakai lampu ublik itu. Pernah suatu waktu,ketika sedang serius mengerjakan PR,tanpa sadar rambutku mendekat ke lampu ublik. Bisa dibayangkan rambutku terbakar api meski hanya sedikit karena aku segera menyadarinya ketika memghidu bau hangus. Buku-bukupun akan berbau minyak tanah karena kadang bersentuhan dengan lampu.

     Saat bulan bersinar terang diatas langit desa kami,itulah saat yang kami tunggu-tunggu. Aku dan teman-temanku berkumpul dan bermain. Kadang main gobak sodor atau bentengan. Bila sudah bosan,kami beralih main bola. Lebih seru lagi ketika musim panen kedelai tiba bersamaan dengan bulan purnama. Kami akan membakar kedelai dengan daun pisang kering lalu setelah siap kami makan bersama-sama di jalan. Namanya juga bakar-bakar dijalan. jangan tanya kotor atau tidaknya. Bahkan kami sengaja mengotori muka kami dengan abu bekas pembakaran. Kami saling mencoreng muka teman kami,saling balas satu sama lain tanpa ada rasa marah. Setelah puas,baru kami bergegas kesungai untuk mandi dan membersihkan diri.

     Tiap malam,aku biasanya tidur di surau depan rumahku. Banyak teman-teman juga yang tidur disana. Namanya anak kecil,gak akan puas kalau gak ngusilin temannya. Bila ada anak yang sudah tidur,kami biasa usil dengan menaruh garam ke mulutnya. Kemudian kami ikat jempol kakinya dengan kain sarungnya. Lebih ekstrim lagi kami guyur pakai air ke mukanya. Maka karena kaget dan marah,teman yang tidur tadi bangun dan terus beranjak mengejar kami. Namun dia tidak menyadari bahwa jempol kakinya sudah diikat. Maka dia akan jatuh tersungkur dan kamipun tertawa terbahak-bahak. Sebuah keusilan yang membuat teman sengsara tapi tidak pernah membuat kami saling dendam. Paling marah sebentar besoknya sudah mandi di sungai bareng lagi. Hihihi...

     Itulah sekelumit kisah tentang masa kecilku,benar-benar masa yang paling membahagiakan. Penuh canda tawa bahagia dalam berbagai keadaan. Kami bisa tertawa ketika sedang mencari rumput. Kami bisa tertawa ketika menggembala kambing dengan naik ke atas kambing dan balapan. Kami bisa bahagia bahkan ketika sedang dimarahi orang tua kami. Bukannya menangis tapi malah cekikikan. Dan yang pasti,kami bisa tertawa bahagia dengan minimnya teknologi,minimnya penerangan,dan jauh dari kata modern. Sebuah kisah kecil yang mungkin tidak akan terjadi lagi pada anak-anak dan cucuku kelak.

     Kalau melihat anak kecil jaman sekarang. Aku merasa kasihan dengan mereka. Masih kecil sudah pegang hp,tab,ipad dan sejenisnya. Tak jarang aku lihat mereka main game online di warnet. Padahal jamanku dulu untuk punya game boat aja harus menabung dulu. Paling banter kami akan mengorek celengan kami untuk main video game di kota. Tapi masa kecil kami benar-benar penuh dengan keseruan ditengah keterbatasan. Dan yang bisa aku harap untuk anak-anak masa kini. Semoga mereka bisa memanfaatkan teknologi yang semakin canggih ini dengan hal-hal yang berguna. Bukan malah sebaliknya. Karena ditangan merekalah,kelak negeri ini berharap ditengah persaingan global yang semakin sulit. Doaku untukmu generasi penerus bangsa.
   

   

      
      
      

      
        

Sunday, 31 July 2016

Sejarah singkat Kabupaten Madiun



Kabupaten Madiun merupakan sebuah Kabupaten yang dulunya merupakan daerah Perdikan.Bupati pertama Madiun adalah Pangeran Timoer(namanya dijadikan nama Stadion/GOR di Car uban,Madiun) Dilantik menjadi Bupati di Purabaya (nama awal Madiun) tanggal 18 juli 1568 berpusat di Desa Sogaten (sampao sekarang tanggal 18 Juli diperingati sebagai Hari jadi Kabupaten Madiun) Sejak saat itu secara yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak dari tahun 1518 - 1568.
pada tahun 1586, kekuasaan pemerintahan diserahkan kepada putri dari Pangeran Timoer yaitu Kanjeng Raden Ayu Retno Dumilah.
Pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purabaya dengan Mataram menderita kekalahan berat. pada tahun 1590, dengan berpura - pura menyatakan takhluk, Mataram menyerang pusat Istana Kabupaten Purabaya yang dipertahankan oleh Raden Ayu Retno Dumilah dengan sejumlah kecil pengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawijaya dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang didekat Istana Kabupaten Wonorejo (Madiun)
Pusaka Tundung Mediun berhasil direbut oleh Sutawidjaya dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Dumilah dipersunting oleh Sutawidjaya dan diboyong ke istana mataram di Pleret (Jogjakarta). Sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purabaya tersebut maka pada hari
Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi nama Purabaya diganti menjadi "Madiun".
Ditinjau dari segi etimologi, nama Madiun berasal dari kata "MBEDI"dan "AYUN " menjadi "MBEDIAYUN" selanjutnya "MBEDIYUN " dan berakhir menjadi " MADIUN" yang mempunyai arti perang di sekitar sendang (mbeji = sendang, ayun = perang ). Madiun dikenal sebagai daerah Mataraman. Karena merupakan bekas wilayah kekuasaan kerajaan Mataram. Maka sebagian besar adat/budaya masyarakat Madiun hampir sama dengan adat/budaya daerah Jogja (kerajaan Mataram) bila dibandingkan dengan mayoritas kebudayaan masyarakat Jawa Timur.

Kabupaten Madiun diapit oleh 3 Gunung berapi (tidak aktif). Yaitu Gunung Pandan,Gunung Wilis dan Gunung Lawu.

Gunung Pandan (lihat gambar nomer 1) mempunyai ketinggian sekitar 897 m adalah sebuah gunung bertipe Stratovolcano yang terletak tepatnya di selatan Kabupaten Bojonegoro , utara Kabupaten Madiun dan
Kabupaten Nganjuk (Perbatasan Kabupaten Madiun dan Bojonegoro).

Gunung Pandan disebelah utara Kabupaten Madiun


Gunung Wilis (gambar nomer 2) memiliki ketinggian 2.169 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan termasuk dalam wilayah enam kabupaten yaitu
Kabupaten Kediri , Kabupaten Tulungagung ,
Kabupaten Nganjuk , Kabupaten Madiun ,
Kabupaten Ponorogo , dan Kabupaten Trenggalek.

Gunung Wilis di sebelah selatan Kabupaten Madiun


Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Kabupaten Magetan tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur . Gunung Lawu terletak di antara dua kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kabupaten Magetan , Jawa Timur. Tetapi sudah sangat dekat dengan Kabupaten Madiun.

Gunung Lawu disebelah barat Kabupaten Madiun


Nb : Gambar ketiga Gunung saya ambil dari persawahan didesa saya ketika sore hari. Begitu indahnya pemandangan didesa ketika cuaca cerah. Karena ketiga Gunung ini akan nampak dengan jelasnya.
Jadi... jangan ragu untuk datang ke Kabupaten Madiun. Karena selain kuliner pecel yang enak dan sudah terkenal di seantero dunia,pemandangan di Madiun tidak kalah menariknya dengan daerah pariwisata lain. Belum lagi penduduknya yang ramah-ramah kepada pendatang. ☺☺☺

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons