JADI PREMAN DI NEGERI JIRAN
Malam itu, aku sedang duduk didepan rumah.
Ketika dua orang yang sudah aku kenal mendatangiku. Sebut saja nama mereka Pak Manan dan Badrun. Mereka adalah
para pekerja kawanku. Sama-sama bekerja ikut bos yang sama.
Aku tidak menaruh kecurigaan apapun dengan
kedatangan mereka, karena selain sudah kenal dengan mereka, aku juga berkawan baik
dengan kepala kerja mereka, yang tak lain adalah sahabatku sendiri sejak kecil.
Pak Manan berbasa basi sebentar kepadaku, sebelum dia mengungkapkan maksud
hatinya. Tercium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulutnya. Disitu
aku mulai merasakan sesuatu yang tak
beres. Tapi demi menghormati mereka, aku tetap melayani pembicaraan dengan
mereka.
“Mas, mas Agus ada duit gak ? kalau ada
saya mintalah sedikit buat tambah beli minum teman-teman.” bisik Pak Manan
kepadaku.
“Wahh, lagi garing ini Pak, sudah lama
belum gaji. Ini ada sedikit buat jatah makan saya dua minggu Pak.” balasku
kemudian.
Dengan raut agak kecewa saya lihat Pak
Manan berbisik kepada Badrun kawannya. Setelah itu diapun berpamitan.
“Ya sudah kalau begitu mas, saya balik
dulu ya”
Kemudian mereka beranjak pergi
meninggalkan aku yang masih tetap duduk sendirian sambil sesekali membalas
pesan yang masuk dari tunanganku di Indonesia. Suasana malam itu terasa hening.
Bintang dilangit berkerumun seakan ingin melihat bumi bersama-sama. Suara
jangkrik dan sesekali bunyi burung malam terdengar sayup-sayup dari hutan di
belakang rumahku. Ya, aku memang tinggal didekat hutan di pinggiran Kota Pasir
Gudang Johor Bahru. Disana banyak tinggal dan bekerja orang-orang Indonesia
yang juga sama-sama mengadu nasib menjadi TKI sepertiku.
Hari sudah beranjak malam, ketika dari
kejauhan kulihat segerombol orang sedang berjalan kearahku. Sontak aku kaget,
suara merka yang gaduh seakan membuatku makin penasaran dengan apa yang
sebenarnya terjadi.
“woii, kamu yang namanya Agus ?” teriak
salah seorang dari mereka setelah tiba didepan rumahku.
“i..iya mas, ada apa ya?” jawabku setengah
terbata-bata.
“Jangan sok kamu jadi orang, dimintai uang
buat minum aja pelit” lanjut sosok kekar yang sekarang sudah berdiri didepanku
itu.
“Sok bagaimana sih Pak, saya memang lagi
gak punya uang, ini ada sedikit buat jatah makan saya 2 minggu kedepan” aku
mencoba memberikan penjelasan.
Ternyata mereka adalah teman-teman Pak
Manan yang tadi baru saja datang meminta uang kepadaku. Mendengar jawabanku,
sosok kekar didepanku tiba-tiba saja menanting kerah bajuku. Teman-temannya
yang berjumlah 20 an orang lebih mulai mendekatiku. Wajah-wajah beringas
terlihat jelas didepan mataku.
Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat
dari belakangku. Aku hanya sempat melihat tanpa bisa menangkis ataupun membalas
pukulan itu. Tubuhku dipegangi oleh mereka. Malam itu aku benar-benar sudah
pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku. Satu persatu saku celana dan
jaketku diperiksa oleh mereka. Handphone dan uang yang seharusnya untuk jatah
makanku 2 minggu mereka bawa. Aku berteriak mengiba kepada mereka agar
menyisakan uangku untuk makan. Namun yang terjadi malah mereka bertindak
semakin beringas. Aku dipukuli beramai-ramai. Bahkan teman-temanku tak ada yang
berani menolongku,. Mereka hanya terdiam terpaku melihatku. Mereka diancam akan
ikut dihajar jika membantuku. Dari sinar mata mereka terlihat raut iba
melihatku. Tapi mereka tak berani bergerak karena mereka tahu siapa yang mereka
hadapi ini.
Aku terus bergumul dengan para
pengeroyokku itu. Hingga di suatu kesempatan aku berhasil melepaskan diri dari
orang-orang yang memegangiku. Seketika aku berlari sekuat tenaga menuju hutan
yang berada di belakang rumahku. Syukurlah, mereka tak berhasil mengejarku.
Mungkin pengaruh minuman keras membuat mereka seperti kehabisan tenaga untuk
berlari mengejarku seorang diri.
Malam itu aku bersembunyi dihutan, aku
yang sebenarnya seorang penakut memberanikan diri untuk terus didalam hutan
menunggu pagi tiba. Sayup-sayup terdengar suara musik dangdut yang diputar
sambil sesekali juga ada teriakan-teriakan orang yang sepertinya sedang
berjoget ria menimati alunan musik. Tak salah lagi, suara musik itu berasal
dari tempat orang-orang yang mengeroyokku tadi. Mereka biasa melakukan pesta
minuman dan wanita bersama-sama. Uangnya berasal dari memeras mereka yang tidak
berdaya.
Setelah semalaman bersembunyi dan menahan
takut dihutan, akupun kaluar menuju rumahku. Kulihat teman-temanku suddah
menantikan kedatanganku didepan rumah. Mereka semua memelukku dan seakan merasa
bersalah.
“Maafkan kami ya mas, kami tidak bisa
berbuat apa-apa ketika kamu dikeroyok sama begundal-begundal itu” ucap salah
seorang temanku.
“gak apa-apa, saya tau kok gimana perasaan
kalian, kalau saya jadi kalianpun saya mungkin juga gak akan bisa berbuat
apa-apa” sahutku kemudian.
Akupun masuk kedalam rumah. Sambil
meringis memegangi pipi dan sebagian kepalaku yang bocor. Malam tadi bukanlah
kejadian pertama aku kehilangan harta bendaku. Di daerah Johor Bahru hal-hal
seperti itu sudah sering berlaku. Pemerasan disertai kekerasan yang justru
dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Pernah juga aku ditodong golok dan
ditempelkan tepat ditelingaku.
“Kamu pilih handphone mu atau pilih
telingamu yang hilang?” suara dari belakangku sambil membentak.
Aku
hanya diam saja ketika akhirnya orang itu merampas handphone yang aku pegang.
Kemudian dengan santainya orang itu pergi meninggalkan aku. Itu adalah kejadian
pertama kali aku diperas disini. Selama setahun bekerja di negeri Johor, aku
sudah 3 kali merasakan pemerasan. Belum lagi teman-temanku dan para TKI yang
lain.
Di Johor ketika itu sangat terkenal dengan
istilah Joker. Yaitu sebutan untuk seorang ketua geng atau preman yang
menguasai suatu wilayah tertentu. Kebanyakan Joker akan memiliki puluhan
anggota dimana mereka tidak pernah mau bekerja. Kerja mereka adalah memeras
para TKI yang sebenarnya masih sebangsa dengan mereka. Pernah suatu ketika ada
sebagian dari mereka yang diperas itu melawan, tapi mereka akhirnya malah
dikeroyok dan dipukuli oleh gerombolan preman itu. Sang Joker biasanya tidak
pernah turun langsung untuk memeras,mereka hanya akan turun jika ada mangsa
besar dengan kasus besar. Dengan dalih mau mendamaikan kasus mereka kemudian
meminta sejumlah uang dalam jumlah yang besar. Padahal sebenarnya kasus itu
sengaja mereka rekayasa sendiri.
Begitulah pengalaman yang pernah aku alami
selama setahun tinggal dan bekerja di Johor. Banyak orang Indonesia tinggal
disana,tapi justru sebagian besar dari mereka pulalah yang membuat onar dan
memeras saudara sebangsa mereka sendiri. Orang Indonesia memanglah pemberani.
Bahkan di negeri orangpun mereka bisa menguasai sebuah wilayah dan menjadi
preman di wilayah tersebut. Orang Indonesia kok dilawan.



20:29
Gus Pur

Posted in:
0 comments:
Post a Comment