Tuesday, 1 November 2016

JADI PREMAN DI NEGERI JIRAN


     Malam itu, aku sedang duduk didepan rumah. Ketika dua orang yang sudah aku kenal mendatangiku. Sebut saja nama  mereka Pak Manan dan Badrun. Mereka adalah para pekerja kawanku. Sama-sama bekerja ikut bos yang sama.
     Aku tidak menaruh kecurigaan apapun dengan kedatangan mereka, karena selain sudah kenal dengan mereka, aku juga berkawan baik dengan kepala kerja mereka, yang tak lain adalah sahabatku sendiri sejak kecil. Pak Manan berbasa basi sebentar kepadaku, sebelum dia mengungkapkan maksud hatinya. Tercium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulutnya. Disitu aku  mulai merasakan sesuatu yang tak beres. Tapi demi menghormati mereka, aku tetap melayani pembicaraan dengan mereka.
     “Mas, mas Agus ada duit gak ? kalau ada saya mintalah sedikit buat tambah beli minum teman-teman.” bisik Pak Manan kepadaku.
     “Wahh, lagi garing ini Pak, sudah lama belum gaji. Ini ada sedikit buat jatah makan saya dua minggu Pak.” balasku kemudian.
     Dengan raut agak kecewa saya lihat Pak Manan berbisik kepada Badrun kawannya. Setelah itu diapun berpamitan.
     “Ya sudah kalau begitu mas, saya balik dulu ya”
     Kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan aku yang masih tetap duduk sendirian sambil sesekali membalas pesan yang masuk dari tunanganku di Indonesia. Suasana malam itu terasa hening. Bintang dilangit berkerumun seakan ingin melihat bumi bersama-sama. Suara jangkrik dan sesekali bunyi burung malam terdengar sayup-sayup dari hutan di belakang rumahku. Ya, aku memang tinggal didekat hutan di pinggiran Kota Pasir Gudang Johor Bahru. Disana banyak tinggal dan bekerja orang-orang Indonesia yang juga sama-sama mengadu nasib menjadi TKI sepertiku.
     Hari sudah beranjak malam, ketika dari kejauhan kulihat segerombol orang sedang berjalan kearahku. Sontak aku kaget, suara merka yang gaduh seakan membuatku makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
    “woii, kamu yang namanya Agus ?” teriak salah seorang dari mereka setelah tiba didepan rumahku.
    “i..iya mas, ada apa ya?” jawabku setengah terbata-bata.
    “Jangan sok kamu jadi orang, dimintai uang buat minum aja pelit” lanjut sosok kekar yang sekarang sudah berdiri didepanku itu.
    “Sok bagaimana sih Pak, saya memang lagi gak punya uang, ini ada sedikit buat jatah makan saya 2 minggu kedepan” aku mencoba memberikan penjelasan.
     Ternyata mereka adalah teman-teman Pak Manan yang tadi baru saja datang meminta uang kepadaku. Mendengar jawabanku, sosok kekar didepanku tiba-tiba saja menanting kerah bajuku. Teman-temannya yang berjumlah 20 an orang lebih mulai mendekatiku. Wajah-wajah beringas terlihat jelas didepan mataku.
     Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat dari belakangku. Aku hanya sempat melihat tanpa bisa menangkis ataupun membalas pukulan itu. Tubuhku dipegangi oleh mereka. Malam itu aku benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku. Satu persatu saku celana dan jaketku diperiksa oleh mereka. Handphone dan uang yang seharusnya untuk jatah makanku 2 minggu mereka bawa. Aku berteriak mengiba kepada mereka agar menyisakan uangku untuk makan. Namun yang terjadi malah mereka bertindak semakin beringas. Aku dipukuli beramai-ramai. Bahkan teman-temanku tak ada yang berani menolongku,. Mereka hanya terdiam terpaku melihatku. Mereka diancam akan ikut dihajar jika membantuku. Dari sinar mata mereka terlihat raut iba melihatku. Tapi mereka tak berani bergerak karena mereka tahu siapa yang mereka hadapi ini.
     Aku terus bergumul dengan para pengeroyokku itu. Hingga di suatu kesempatan aku berhasil melepaskan diri dari orang-orang yang memegangiku. Seketika aku berlari sekuat tenaga menuju hutan yang berada di belakang rumahku. Syukurlah, mereka tak berhasil mengejarku. Mungkin pengaruh minuman keras membuat mereka seperti kehabisan tenaga untuk berlari mengejarku seorang diri.
     Malam itu aku bersembunyi dihutan, aku yang sebenarnya seorang penakut memberanikan diri untuk terus didalam hutan menunggu pagi tiba. Sayup-sayup terdengar suara musik dangdut yang diputar sambil sesekali juga ada teriakan-teriakan orang yang sepertinya sedang berjoget ria menimati alunan musik. Tak salah lagi, suara musik itu berasal dari tempat orang-orang yang mengeroyokku tadi. Mereka biasa melakukan pesta minuman dan wanita bersama-sama. Uangnya berasal dari memeras mereka yang tidak berdaya.
     Setelah semalaman bersembunyi dan menahan takut dihutan, akupun kaluar menuju rumahku. Kulihat teman-temanku suddah menantikan kedatanganku didepan rumah. Mereka semua memelukku dan seakan merasa bersalah.
    “Maafkan kami ya mas, kami tidak bisa berbuat apa-apa ketika kamu dikeroyok sama begundal-begundal itu” ucap salah seorang temanku.
    “gak apa-apa, saya tau kok gimana perasaan kalian, kalau saya jadi kalianpun saya mungkin juga gak akan bisa berbuat apa-apa” sahutku kemudian.
     Akupun masuk kedalam rumah. Sambil meringis memegangi pipi dan sebagian kepalaku yang bocor. Malam tadi bukanlah kejadian pertama aku kehilangan harta bendaku. Di daerah Johor Bahru hal-hal seperti itu sudah sering berlaku. Pemerasan disertai kekerasan yang justru dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Pernah juga aku ditodong golok dan ditempelkan tepat ditelingaku.
    “Kamu pilih handphone mu atau pilih telingamu yang hilang?” suara dari belakangku sambil membentak.
     Aku hanya diam saja ketika akhirnya orang itu merampas handphone yang aku pegang. Kemudian dengan santainya orang itu pergi meninggalkan aku. Itu adalah kejadian pertama kali aku diperas disini. Selama setahun bekerja di negeri Johor, aku sudah 3 kali merasakan pemerasan. Belum lagi teman-temanku dan para TKI yang lain.
     Di Johor ketika itu sangat terkenal dengan istilah Joker. Yaitu sebutan untuk seorang ketua geng atau preman yang menguasai suatu wilayah tertentu. Kebanyakan Joker akan memiliki puluhan anggota dimana mereka tidak pernah mau bekerja. Kerja mereka adalah memeras para TKI yang sebenarnya masih sebangsa dengan mereka. Pernah suatu ketika ada sebagian dari mereka yang diperas itu melawan, tapi mereka akhirnya malah dikeroyok dan dipukuli oleh gerombolan preman itu. Sang Joker biasanya tidak pernah turun langsung untuk memeras,mereka hanya akan turun jika ada mangsa besar dengan kasus besar. Dengan dalih mau mendamaikan kasus mereka kemudian meminta sejumlah uang dalam jumlah yang besar. Padahal sebenarnya kasus itu sengaja mereka rekayasa sendiri.
     Begitulah pengalaman yang pernah aku alami selama setahun tinggal dan bekerja di Johor. Banyak orang Indonesia tinggal disana,tapi justru sebagian besar dari mereka pulalah yang membuat onar dan memeras saudara sebangsa mereka sendiri. Orang Indonesia memanglah pemberani. Bahkan di negeri orangpun mereka bisa menguasai sebuah wilayah dan menjadi preman di wilayah tersebut. Orang Indonesia kok dilawan.



 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons